PERAN DAN TANTANGAN GURU TEMATIK PADA PEMBELAJARAN ABAD 21




Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) semakin tidak terbendung. Hal ini dapat dilihat dari semakin luasnya pemakaian alat-alat canggih yang dapat terkoneksi dengan internet. Penggunaan alat-alat canggih tersebut tidak hanya didominasi oleh usia remaja hingga dewasa, namun anak-anak usia SD hingga SMA  juga sudah mulai menggunakan alat tersebut sebagai bagian dari kebutuhan mereka. Fakta ini didukung oleh hasil survey oleh APJII tahun 2018 bahwa remaja usia 13 hingga 18 tahun menempati posisi ketiga yakni sebesar 16,68% (tekno.kompas.com, tanggal 22 Fberuari 2018). Kalau dulu anak-anak seusia mereka masih bertumpu kepada guru dan buku sebagai sumber belajarnya, kini mereka dapat berselancar sendiri untuk mendapatkan sumber belajar di internet.

            Permasalahan di atas menjadi tantangan tersendiri bagi guru, terutama guru tematik pada sekolah dasar. Mengingat kini mulai munculnya konten-konten pendidikan semacam channel di YouTube yang tentu saja lebih menarik bagi siswa. Jika guru tidak berkreasi dan berinovasi maka perannya akan tergeser oleh channel-channel semacam Ruang Guru, Quipper, Zenius Education, dll. yang tentu saja menawarkan pembelajaran yang lebih menarik melalui video edukasi.

            Selain dampak positif seperti yang disampaikan di atas, penggunaan internet oleh siswa rentan akan konten-konten negatif. Salah satunya adalah adanya game online yang tentu saja menyita waktu belajar siswa di rumah karena game-game tersebut bersifat adiktif dan membuat kecanduan. Selain game online salah satu dampak negatif yang akan ditimbulkan oleh penggunaan internet adalah banyaknya konten-konten video yang menyuguhkan pornografi dan pornoaksi tapi tentu saja hal ini terjadi bila pengguanaan internet tidak dalam pengawasan orang tua. Belum lagi maraknya pembuatan video challenge yang sama sekali tidak memberikan dampak bagus, malah cenderung melunturkan budaya malu yang selama ini menjadi tradisi ketimuran khas Indonesia.



            Inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi guru tematik pada abad 21 ini. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran menarik yang memungkinkan siswa untuk selalu belajar tanpa dibatasi sekat ruang dan waktu. Untuk mewujudkan itu guru harus mengupgrade dirinya menjadi pengajar abad 21 yang memiliki karakteristik: Pertama, sebagai motivator dan inspirator bagi muridnya untuk terbiasa berdiskusi, memecahkan masalah, serta melakukan proyek yang merangsang siswa untuk selalu berpikir kritis (Kompas, 9 April 2018, hal. 12). Guru harus mengubah pola pembelajaran tradisional dari yang berpusat pada guru (teacher center) menjadi pola pembelajaran abad 21 yang lebih berpusat pada siswa (student center).

            Kedua, guru harus meningkatkan minat baca. Membanjirnya arus informasi sebagai dampak dari kemajuan teknologi mau tidak mau mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan literasinya, baik literasi manual dengan membaca buku maupun literasi digital yang didapatkan dari internet. Jangan sampai guru mengalami hilang confidence karena menghadapi siswanya yang lebih banyak tahu tentang materi pelajaran dari konten-konten di internet.

            Ketiga, guru harus memiliki kemampuan menulis. Bagi guru yang berstatus PNS mungkin syarat untuk naik pangkat, dimulai dari golongan III b menuju golongan III c dan seterusnya. Namun bagi saya pribadi hal ini bukan hanya sekedar sebagai menjadi syarat untuk naik tingkat, tetapi sudah menjadi suatu kebutuhan. Karena bagaimanapun guru yang sering menulis pengetahuannya akan lebih banyak karena dalam menulis membutuhkan berbagai referensi  yang berasal dari berbagai sumber. Selain itu dengan menulis kita akan menjadi guru yang disegani oleh siswa karena buku yang digunakan oleh siswa merupakan hasil karya dari kita, dengan kata lain guru beberapa langkah lebih maju daripada siswanya.

            Keempat, guru harus kreatif dan inovatif. Tidak dapat dipungkiri guru yang stagnan (tidak mau berkembang) hanya akan mengandalkan pembelajaran konvensional yang tentu membosankan bagi siswa. Dengan berkreasi dan berinovasi guru akan dapat memecahkan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran. Misalnya saja kurang cocoknya suatu media pembelajaran pada suatu pokok bahasan akan dapat segera teratasi dengan adanya kreasi dan inovasi dari guru.


            Kelima, guru dapat melakukan transformasi kultural. Indonesia adalah negara multikultur yang kaya akan kebudayaan. Tentu saja bukan hanya budaya yang bersifat adat istiadat tetapi juga budaya yang langsung menyentuh sisi kehidupan manusia. Contohnya saja adanya larangan atau Ilah-ilah dalam budaya Suku Jawa yang menurut sebagian orang sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman karena tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan norma agama. Pada kasus ini seorang guru harus dapat menyampaikan secara baik-baik tentang perbedaan ini kepada para sesepuh yang tentu saja masih berpegang teguh pada prinsip yang secara turun-menurun diwariskan oleh nenek moyang mereka. Dikhawatirkan akan terjadi gesekan dimasyarakat apabila cara penyampaiannya kurang tepat.

            Untuk mendukung peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (PUSTEKKOM) meluncurkan suatu layanan pembelajaran berupa portal pembelajaran yang diberi nama Portal Rumah Belajar Kemdikbud. Layanan ini dapat diakses melalui laman belajar.kemdikbud.go.id. Rumah Belajar Kemdikbud berisi fitur-fitur menarik mulai dari Sumber Belajar, Bank Soal, Buku Sekolah Elektronik,  Kelas Maya, Laboratorium Maya, Karya Bahasa dan Sastra, Peta Budaya, Wahana Jelajah Angkasa, hingga Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang memfasilitasi guru untuk meningkatkan kompetensinya.

Selain dapat diakses oleh guru, Portal Rumah Belajar Kemdikbud juga dapat diakses oleh para siswa tanpa harus membayar. Tentu saja ini mejadi solusi terbaik dalam menjawab tantangan pembelajaran abad 21. Apalagi dukungan fitur kelas maya yang memungkinkan interaksi antara guru dan siswa tidak hanya terbatas pada ruang kelas karena fitur ini merupakan LMS (Learning Manegement System) yang memfasilitasi pembelajaran dalam jaringan (online) antara siswa dan guru kapan saja, di mana saja. (Nurhayati, 2018).

Secara tidak langsung, dengan adanya Portal Rumah Belajar ini akan mengurangi dampak negatif internet terhadap siswa seperti yang saya kemukakan pada awal tulisan ini. Terlebih lagi kini Rumah Belajar dapat diakses dengan mengunduh aplikasinya dari Play Store sehingga juga dapat diakses melalui gawai. Lebih dari itu, dengan adanya Rumah Belajar Kemdikbud guru tematik dapat mengupgrade kompetensinya untuk berkarakteristik sebagai guru pembelajar abad 21.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.