PENGERTIAN, JENIS, DAN LANGKAH DALAM MEMBUAT PANTUN
Dahulu
masyarakat Melayu menjadikan pantun sebagai bahasa komunikasi yang sangat
penting. Mereka menggunakan pantun dalam acara pertemuan, pernikahan, meminang
pengantin, perceraian ataupun acara adat. Bahkan, untuk urusan berkenalan antar
pemuda dan pemudipun mereka menggunakan pantun sebagai kiasan. Selain itu,
pantun juga menjadi tolok ukur untuk mengukur kepandaian seseorang. Orang yang
lihai dalam berpantun, berarti dia seorang yang pandai. Sebaliknya orang yang
tidak pandai dalam berpantun berarti dia orang yang bodoh.
Sekarang, pantun tidak
hanya menjadi milik masyarakat Melayu saja, Suku Sunda mengenalnya dengan nama
wawangsalan, masyarakat Jawa mengenal pantun dengan sebutan ludruk/gandrung, di
Mandailing dikenal dengan nama ende-ende, Suku Batak dan Toraja mengenal pantun
dengan sebutan Umpasa dan Bolingoni, dan masih banyak daerah-daerah ataupun
suku-suku lain yang mengenal pantun dengan sebutan yang berbeda-beda. Selain itu, Pantun sudah menjadi alat
komunikasi yang tidak hanya digunakan dalam acara adat daerah saja, namun pada
acara-acara resmipun tidak jarang pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan
tokoh-tokoh lainnya juga menggunakan pantun sebagai pembuka, selingan, maupun
penutup dalam berkomunikasi dengan khalayak ramai. Salah satu upacara adat yang
menggunakan pantun adalah adat “Palang Pintu” dari Suku Betawi. Sedangkan salah
satu pejabat yang sering menggunakan pantun sebagai sarana berkomunikasi dengan
masyarakat adalah Tifatul Sembiring (mantan Menkominfo).
Gambar 1. Adat palang pintu dari Betawi
Sumber:
https://jasapernikahanadatbetawi.blogspot.com/2016/08/tradisi-palang-pintu-pernikahan-adat.html
Pantun
menjadi lebih populer setelah acara-acara komedi di televisi juga
menggunakannya sebagai bahan lawakan. Salah satu acara komedi yang
mempopulerkan pantun adalah OVJ (Opera Van Java). Pada medio 2009 hingga 2014 grup
lawak ini selalu berbalas pantun dengan menggunakan lagu “Andeca Andeci”
sehingga populer dikalangan anak-anak dan remaja pada waktu itu.
Pada
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan segala sesuatu tentang pantun.
Pengertian, fungsi, jenis pantun, ciri-ciri pantun, dan bagaimana
langkah-langkah menulis pantun. Semoga tulisan ini memberi manfaat bagi penulis
khususnya dan bagi masyarakat luas pada umumnya.
Pengertian Pantun
Pantun
merupakan salah satu jenis puisi lama asli Indonesia yang dikenal luas dalam
bahasa-bahasa nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti “petuntun”. Pada
mulanya pantun merupakan karya sastra llisan. Pantun diucapkan dari mulut ke
mulut karena zaman dahulu masyarakat masih belum mengenal tulisan. Seiring
perkembangan zaman di mana masyarakat mulai mengenal tulisan akhirnya
masyarakat menulis pantun.
Pantun
ditulis untuk menyampaikan gagasan, pikiran, ataupun perasaan penulisnya kepada
seseorang ataupun kepada khalayak ramai. Misalkan, seorang guru yang ingin
menyindir muridnya karena datang terlambat, seorang Ayah yang sedang menasehati
anaknya, seorang pemuda yang ingin berkenalan dengan kenalan barunya, dll.
Fungsi Pantun
Ada
beberapa fungsi pantun, antara lain:
1.
Sebagai
pengantar atau bahasa pergaulan.
2.
Ungkapan
perasaan untuk menghibur seseorang
3.
Sebagai
alat pemelihara bahasa, penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur
berpikir.
4.
Melatih
seseorang berfikir makna kata sebelum berbicara
5.
Berbalas
pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan
kata.
6.
Secara
sosial memiliki fungsi pergaulan yang kuat hingga sekarang, tidak hanya
digunakan pada acara tidak resmi tetapi juga pada acara resmi.
Jenis Pantun dan contohnya
Jenis
pantun terdiri dari dua, yaitu berdasarkan bentuknya dan juga berdasarkan isi.
Berdasarkan bentuknya, pantun dibedakan atas:
a. Pantun Kilat/Karmina
Karmina disebut juga pantun kilat.
Karmina terdiri dari dua larik. Larik pertama merupakan sampiran dan larik
kedua merupakan isi. Dalam bahasa Jawa karmina dinamakan parikan.
Contoh karmina:
Sudah
gaharu, cendana pula.
Sudah
tahu, bertanya pula.
Piring
tak retak, nasi tak dingin.
Tuan
tak hendak, kami tak ingin.
b. Pantun Biasa
Pantun biasa adalah pantun yang
terdiri dari 4 baris. Pantun inilah yang lazim digunakan oleh masyarakat umum.
Contoh pantun biasa:
Jalan-jalan
ke Kota Blitar,
Mampir
sebentar di rumah Bekti.
Kalau
adik memang pintar,
Hewan
apa tanduk di kaki.
Lurus
jalannya ke Tanjung Sani,
Berkelok
tentang ladang lada.
Jauh
bedanya nasibku ini,
Dengan
anak orang berada.
c. Talibun
Talibun merupakan pantun yang
mempunyai jumlah larik lebih dari empat baris tetapi genap, misalnya enam,
delapan, sepuluh, atau dua belas. Talibun juga mempunyai sampiran dan isi. Jika
terdiri dari enam larik, larik pertama sampai larik ketiga merupakan sampiran,
dan larik keempat sampai dengan enam merupakan isi. Jika talibun terdiri dari
delapan larik, larik pertama sampai keempat merupakan sampiran, sedangkan larik
kelima sampai delapan merupakan isi. Perhatikan contoh talibun enam larik di
bawah ini!
Bukan
hamba takutkan mandi,
Takut
hamba berbasah-basah,
Mandi
di lubuk pariangan,
Bukan
hamba takutkan mati,
Takut
hamba kan patah-patah,
Pada proses bertunangan.
Sedangkan
berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi:
a. Pantun suka cita
Dibawa
itik pulang petang,
dapat
di rumput padang hijau.
Hati
siapa takkan riang,
ibu
bawa pisang kesenganganku.
b. Pantun berduka cita
Lambat
nian si kura-kura,
tak
secepat terbangnya elang.
Hati
sedih tiada terkira,
kakek nenek tak jadi
datang.
c. Pantun berkenalan
Jika
kenyang karena makan,
janganlah
lupa akan minumnya.
Bolehlah
abang datang berkenalan,
dinda
cantik siapa namanya.
d. Pantun berkasih-kasihan
Udang
galah dijala di tambak,
burung
dara membuat sarang.
Makan
tak enak tidur tak nyenyak,
hanya
teringat abang seorang.
e. Pantun perpisahan
Dari
Jakarta menuju Medan,
dari
Toba menginat di Brastagi.
Banyak
ucap tak sesuai kelakuan,
Aku
sudah tak percaya lagi.
f. Pantun beriba hati
Tanam
melati pada pot bunga,
disiram
bunga setiap petang.
Sehidup
semati kita bersama,
maukah
dinda maafkan abang.
g. Pantun agama
Minum
susu dipagi hari,
tambah
nikmat tambah cokelat.
Pandai-pandai
membawa diri,
siapa
tahu kiamat sudah dekat.
h. Pantun nasihat
Jalan-jalan
ke Semarang,
bawa
bandeng tanpa duri.
Belajar
mulai dari sekarang,
untuk
hidup dikemudian hari.
i. Pantun adat istiadat
Lebat
daun bunga tanjung,
berbau
harum bunga cempaka.
Adat
dijaga pusaka dijunjung,
baru
terpelihara adat pusaka.
Dari uraian jenis-jenis pantun beserta
contohnya di atas, dapat kita simpulkan ciri-ciri pantun sebagai berikut:
1. Satu bait pantun terdiri dari 4 baris.
2. Memiliki rima a-a-a-a, a-b-a-b,
a-b-b-a
3. Baris pertama dan kedua merupakan
sampiran.
4. Baris ketiga dan keempat merupakan
isi.
5. Satu baris terdiri 8-12 suku kata
Menulis Pantun
Jika
kita mengetahui langkah-langkah menulis pantun, maka membuat pantun bukanlah
menjadi suatu pekerjaan yang sulit. Bahkan menulis pantun merupakan pekerjaan
yang sangat menyenangkan. Berikut ini langkah-langkah dalam menulis pantun:
a. Menentukan terlebih dahulu tema
pantun.
Tema adalah pokok pikiran yang menjadi
dasar mengarang, menggubah sajak, dan sebagainya. Tema pantun dapat berupa
perasaan hati atau pengalaman pribadi.
Contoh: Rajin Belajar
b. Menentukan jenis pantun.
Hal ini harus dilakukan supaya pantun
yang kita buat tepat sasaran, artinya kepada siapa pantun ini kita tujukan.
Contoh: Pantun Nasihat
c. Menulis terlebih dahulu isi pantun,
yaitu baris ketiga dan keempat.
Jenis pantun maupun tema pantun dapat
dilihat dari isi pantun (baris ketiga dan keempat) karena itulah sebelum
membuat sampiran terlebih dahulu kita harus membuat isi.
Contoh:
Jikalau
kamu ingin pandai,
Setiap
hari harus rajin belajar.
d. Menulis sampiran, yaitu baris pertama
dan kedua.
Sampiran merupakan baris pertama dan
kedua pantun. Dalam menulis sampiran jangan lupa untuk mencari kata yang bunyi
akhirnya sama dengan bunyi akhir pada baris ketiga dan keempat. Selain itu baris
pertama dan kedua pada sampiran harus berhubungan. Fungsi sampiran adalah untuk
menarik orang supaya membaca pantun. Oleh karena itu gunakan kalimat semenarik
mungkin untuk menulis sampiran.
Contoh:
Tinggi
nian lompat si tupai,
mendarat
mulus di bidang datar.
e. Menggabungkan isi dan sampiran pantun
menjadi sebuah pantun.
Langkah berikutnya dalam membuat
pantun adalah menggabungkan sampiran dan isi yang telah ditulis, jangan lupa
untuk meletakkan sampiran di atas isi.
Contoh:
Tinggi
nian lompat si tupai,
mendarat
mulus di bidang datar.
Jikalau
kamu ingin pandai,
Setiap
hari harus rajin belajar.
Dan langkah paling akhir adalah mengecek pantun apakah
sudah berima a-b-a-b? Apakah baris pertama dan kedua saling berhubungan? Apakah
setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata? Jika sudah sesuai dengan ciri-ciri
pantun berarti kalian telah berhasil membuat pantun.
Demikian
paparan materi tentang pantun. Untuk lebih jelasnya silahkan menyaksikan video
pemaparan tentang pantun dengan menekan tautan yang ada di bawah gambar.
Contoh Pantun Nasehat
DAFTAR PUSTAKA
W.R.D, Wendi. 2018. Ayo, Berbalas Pantun! Klaten: PT Intan
Pariwara
W.R.D, Wendi. 2018. Serba-Serbi Pantun. Klaten: PT Intan
Pariwara



Maaf, untuk video pada youtube tidak bersuara alias gagal audio. dikarenakan kendala teknis...
BalasHapusApa perbedaan pantun dan puisi pak?
BalasHapusPertama pantun terikat oleh jumlah baris sedangkan puisi tidak terikat, kedua setiap baris pada pantun berjumlah 8 sampai 12 suku kata sedangkan puisi bebas setiap barisnya, ketiga pantun terdiri dari sampiran dan isi sedangkan pantun tidak mengenal sampiran dan isi, terakhir pada pantun berima a-b-a-b dalam puisi tidak dikenal adanya rima.
HapusMantab. Semangat
BalasHapusSiap.. Semangat selalu
HapusBgm membedakan gurindam dg pantun?
BalasHapusUntuk membedakan pantun dengan gurindam kita lihat dari beberapa aspek:
BalasHapus1. Jumlah baris pantun pada pantun adalah 4 baris, sedangkan gurindam terdiri dari 2 baris.
2. Tiap baris pantun terdiri dari 8 s.d. 12 suku kata.
3. Dari strukturnya pantun terdiri dari sampiran dan isi, sedangkan gurindam Isi atau penyampaian maksud pada gurindam terdapat pada baris kedua, sekaligus jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada yang terdapat pada baris pertama.
Demikian sedikit perbedaan pantun dan gurindam, semoga bermanfaat
Bagaimanakah menerapkan pantun dalam kehidupan sehari-hari.....?
BalasHapusTidak semua orang memiliki keterampilan membuat pantun, namun akhir-akhir ini pantun banyak sekali diterapkan dalam beberapa hal, misalnya pada OVJ Trans 7, pada adat palang pintu pada suku betawi, dan pada acara-acara resmi lainnya.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus